Semangat sudah ada. Naskah sudah selesai. Tapi begitu masuk ke proses penerbitan, banyak penulis pemula justru tersandung di hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari. Bukan karena tidak berbakat. Bukan karena naskahnya jelek. Tapi karena tidak tahu apa yang tidak mereka tahu.
Artikel ini membahas tujuh kesalahan yang paling sering terjadi supaya kamu tidak perlu mengulangnya.
1. Langsung Cetak Tanpa Proofreading
Ini kesalahan nomor satu. Dan paling sering terjadi.
Setelah berbulan-bulan menulis, wajar kalau kamu sudah lelah membaca naskah sendiri. Rasanya sudah cukup bagus. Rasanya sudah siap.
Tapi “merasa sudah benar” dan “benar secara objektif” adalah dua hal yang berbeda.
Typo, kalimat ambigu, tanda baca yang salah semua itu tidak akan kamu tangkap kalau kamu yang membaca naskahmu sendiri terlalu dekat. Minta orang lain membacanya. Atau istirahat dulu beberapa hari sebelum proofreading terakhir.
Buku yang sudah tercetak tidak bisa diedit. Pastikan naskahmu benar-benar bersih sebelum masuk ke proses cetak.
2. Menganggap Cover Bisa Dikerjakan Seadanya
Banyak penulis pemula menghabiskan energi besar untuk naskah, lalu mengerjakan cover dalam satu jam.
Hasilnya terlihat.
Cover adalah hal pertama yang dilihat pembaca. Sebelum mereka membaca judulnya, sebelum mereka tahu isinya mereka sudah menilai bukumu dari sampulnya.
Cover yang tidak profesional memberi sinyal yang salah. Pembaca akan mengasumsikan isinya pun seadanya bahkan sebelum membaca satu halaman pun.
Investasikan waktu dan anggaran yang wajar untuk desain cover. Ini bukan biaya tambahan. Ini bagian dari buku itu sendiri.
3. Tidak Mengurus ISBN
Sebagian penulis pemula berpikir: “Nanti saja kalau sudah laku.”
Ini keliru.
ISBN bukan sekadar kode. ISBN adalah identitas legal bukumu. Tanpa ISBN, buku tidak bisa dijual secara resmi di toko buku atau marketplace dalam kategori buku. Tidak bisa masuk ke katalog perpustakaan. Tidak bisa dikutip secara akademis.
Proses pengurusan ISBN di Indonesia dilakukan melalui Perpusnas dan tidak dipungut biaya. Urus sejak awal, bukan belakangan.
Kalau prosesnya terasa rumit, platform penerbitan seperti Nerbitin Buku bisa membantu mengurusnya untukmu.
4. Tidak Punya Rencana Distribusi
Buku sudah terbit. Sekarang apa?
Banyak penulis pemula berhenti di titik ini. Mereka pikir begitu buku ada, pembaca akan datang sendiri.
Tidak akan.
Distribusi perlu direncanakan jauh sebelum buku terbit. Mau dijual di mana? Lewat marketplace? Media sosial? Komunitas? Toko buku lokal?
Setiap saluran punya cara kerja yang berbeda. Dan semuanya butuh waktu untuk dibangun.
Jangan tunggu buku jadi baru mulai memikirkan distribusi. Mulai rencanakan sejak naskah masih dalam proses editing.
5. Mulai Promosi Setelah Buku Terbit
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya — tapi ini lebih spesifik.
Banyak penulis yang baru ramai di media sosial setelah buku terbit. Posting foto buku, kasih tahu teman-teman, lalu sepi lagi.
Padahal momen terbaik untuk membangun antisipasi adalah sebelum buku ada.
Bagikan proses menulismu. Ceritakan riset di balik bukumu. Tunjukkan proses desain cover. Ajak calon pembaca ikut perjalanannya.
Ketika buku akhirnya terbit, mereka sudah menunggu — bukan baru mendengar pertama kali.
6. Memilih Platform Penerbitan Tanpa Riset
Tidak semua platform penerbitan sama.
Ada yang transparan soal biaya, ada yang tidak. Ada yang membantumu mengurus ISBN, ada yang tidak. Ada yang memberikan hak cipta sepenuhnya kepadamu, ada yang mengambil sebagian haknya.
Penulis pemula sering memilih platform berdasarkan harga termurah atau sekadar yang pertama muncul di hasil pencarian.
Sebelum memutuskan, tanyakan hal-hal ini:
- Apakah ada biaya tersembunyi?
- Siapa yang memegang hak cipta setelah buku terbit?
- Bagaimana proses ISBN diurus?
- Apakah ada layanan purna jual kalau ada masalah?
Pilih platform yang transparan dan bisa kamu percaya untuk jangka panjang.
7. Menyerah Setelah Satu Kali Ditolak
Ini bukan kesalahan teknis. Tapi ini yang paling banyak menghentikan penulis.
Satu penolakan dari penerbit konvensional bukan berarti naskahmu tidak layak. Penolakan bisa berarti banyak hal: naskahmu tidak cocok dengan niche penerbit itu, mereka sedang penuh, atau sekadar masalah timing.
Banyak buku yang akhirnya sangat sukses pernah ditolak puluhan kali sebelum diterbitkan.
Kalau jalur konvensional belum terbuka, itu bukan akhir. Self publishing adalah jalur yang sah, serius, dan semakin dihormati. Banyak penulis Indonesia yang membuktikannya.
Yang penting adalah naskahmu sampai ke tangan pembaca bukan lewat mana jalannya.
Jangan Biarkan Kesalahan Ini Menghentikanmu
Tujuh kesalahan di atas bukan untuk menakut-nakuti.
Sebaliknya, sekarang kamu sudah tahu. Dan tahu adalah langkah pertama untuk menghindarinya.
Kalau kamu siap menerbitkan buku dengan proses yang lebih terarah, Nerbitin Buku hadir untuk mendampingimu dari naskah hingga buku jadi, tanpa ribet.
Konsultasikan naskahmu sekarang
Baca juga: Cara Menerbitkan Buku Sendiri di Indonesia: Panduan Lengkap untuk Pemula | Penerbit Gratis Tanpa Seleksi: Terbitin Bukumu Sekarang, Tanpa Ribet
Siap Menerbitkan Bukumu?
Konsultasikan naskahmu dengan tim kami — gratis, tanpa komitmen.